Half Purple and Blue Butterfly

Jumat, 27 Mei 2011

Sejarah SMP-ku Tercinta (Ketahuilah Kisahnya)

Sumber : http://belajarikhlas.multiply.com/journal/item/4

"Diceritakan oleh Ibu Lisda, kepala sekolah kami yang sangat kami cintai. Tak ada pendeskripsian yang bisa kami ungkapkan seperti apa gambaran seorang Ibu Lisda yang amat Luar Biasa segala kebaikannya"



Ini sejarah SMPIT Nurul Fajar.

(wah, belum apa-apa sudah ada yang berkomentar : ”Mudah-mudahan tidak segera jadi sejarah semata ..” )

Yah ini bukan betul-betul cerita sejarah. Tak detil menjelaskan waktu, tempat, orang dan kejadian. Tulisan ini hanya sedikit mengungkap saja apa yang masih ada dalam kenangan dan apa yang ada dalam harapan. Hehe ceillee...

Mulai dari mana ya? Sepertinya tidak lengkap kalo tidak cerita tentang TKnya dulu.

Jadi, ini tentang TK Fatimah. TK yang keberadaannya kemudian melahirkan Yayasan Nurul Fajar Bogor.

Bermula dari kebutuhan sendiri, yang sebenarnya kebutuhan banyak orang

(tetangga de el el) tapi mereka gak sadar aja atawa gak ngeh, yang ingin menyekolahkan anak (Maryam) tapi terkendala dengan kondisi kampung ini.

Jauhnya jarak ke kota, buruknya fasilitas angkutan, jalan yang jueleeeq, membuat aku, seorang ibu hamil pada waktu itu, merasa sangat kelelahan jika tiap hari harus untuk keluar dari kampung ini untuk menyekolahkan anak dan bekerja.

Lalu, ya begitulah, kubuat sekolah-sekolahan di rumah dengan mengundang anak tetangga dan balita-balita dari posyandu terdekat. Ada Iqro’, ada ABCD dan 1234, gambar-gambar buatan sendiri di atas kertas-kertas bekas, nyanyi-nyanyi dan do’a-do’a. Mula-mula hanya dua kali seminggu, gantian dengan jadwal ngajar di AMIK, sampai akhirnya kupilih menekuni TK ini saja dan melepaskan pekerjaan dosen. Pertimbangannya sederhana, kalau pekerjaan dosen ditinggalkan akan mudah cari pengganti. Banyak yang sedang antri. Tapi ’kerjabakti’ demi anak kampung, sulit betul cari teman apalagi pengganti. Maka, di sini aku dengan pilihanku.

Berikutnya, ada banyak sambutan, beragam bentuk dan rasa, bulat lonjong positif negatif manis pahit tarik dorong bisik teriak beri minta dan bla bla bla....

Alhamdulillah, semuanya menjadi pelajaran berharga bagi insan yang ngaku mau dakwah ini. Semoga seluruhnya akan membawa rasa syukur padaNya.

Hingga sekarang seperti ini. Tak ada prestasi yang mendunia atau apalah, aku cuma berani bilang kami memimpin dalam pendidikan prasekolah di kampung ini. Alhamdulillah.

Demikianlah, kemudian banyak pihak yang berharap dengan sangat, agar semua kerja ini berlanjut terus bagai terbitnya fajar di kampung yang ’gelap’ini (minjam istilah Mang Agus). Fajar yang membawa benderangnya Islam dan Dakwah pada titik pencilan di bumi Allah yang bernama Cikarawang.

Jadi itulah usut asal nama yayasan, yang mula-mula diurus untuk kebutuhan legalitas sekolah TK, tapi lalu menjadi wadah juga untuk macam-macam kegiatan lain dan melibatkan banyak orang lainnya pula. Kegiatan paling baru adalah merintis usaha penggemukan sapi, sekarang baru sampe bikin kandangnya. Mudah-mudahan bisa berjalan ya. Hidup Nurul Fajar Bogor !!!

Siapa yang hebat? Allah saja. Allahlah dengan semua pertolonganNya. Allahu Akbar!!!

Boleh juga kusebut barisan pejuang cantik berhati mulia yang tak pernah bisa terbayar pengorbanannya untuk TK: Bu Lilis, Bu Uja, Bu Aam, Bu Wiwit, Bu Sutini, Bu Tini, Bu Neng, Bu Ida, Bu Ida lagi, Bu Saroh, dan semua ibu lain yang datang kemudian... Sebagian masih di sini, sebagian entah di mana. Jangan tanya pendidikannya, karena memang sangat beragam. Tapi lihatlah... kalau mau berbuat, siapa pun bisa mewujudkan muwashofat nafiun li ghoirihi. Subhanallah.

Dan kemudian, ada semangat serupa yang menular ke Cangkrang dan Kompleks IPB, dusun berbeda tapi masih desa kami jaga.

Senangnya,.. ada TK di mana-mana, dan belajar dari kita! Mudah-mudahan jadi tabungan untuk beli tiket ke Syurga. Ya Allah, berkahilah kami...

Lalu, waktu itu ada pemikiran baru. Selepas TK mereka ke mana?

Maka berjalanlah TPA untuk menjawab kebutuhan ini. Sayang, tumbuhnya tak sesehat TK, ada masa hibernasinya, gitu. Aha!? Tapi, belum mati koq. Tahun ini insyaAllah akan diupayakan suasana dakwah dibuat sehangat summer, agar TPA kembali menggeliat dan melompat, mengejar ketinggalannya. Bismillah.... Allahummanshurna...

Lalu lagi, ada permohonan ada banyak orangtua untuk berdirinya SMP.

Ada dua perkara yang jadi pertimbangan utama. Pertama, letak SMP yang jauh sehingga membuat biaya transport jadi sungguh besar . Kedua, mereka berharap anak-anaknya bisa kembali bangga dengan atribut keislamannya, sebagaimana yang pernah mereka rasakan sewaktu di TK.

Aku perlu waktu 3 tahun untuk mengendapkan permintaan ini, menguji kekonsistenan permintaan tersebut. Nggak mau kan bikin sekolah lalu bubar gak keruan.

Awal tahun 2007, ketika akhirnya kuberanikan diri mengungkapkannya di hadapan para pemuda mujahid dramaga, ternyata perlu waktu juga untuk membiarkan ide itu tumbuh menjadi pemikiran-pemikiran dan kemauan untuk memulai.

Nah, kemudian dengan mengumpulkan banyak semangat dan do’a, dibuatlah struktur, konsep, spanduk, formulir... dan lain-lainnya. Di situ ada angan-angan, ada impian, ada keluh kesah, ada lelah, ada tawa … ada air mata juga. Pak Sidik tercintalah yang setia memimpin agar cita-cita ini terwujud, hingga .....

Siapa jadi kepala sekolah?

Agak malu, tapi jabatan itu kuminta juga!

Kenapa?

Karena aku pernah punya pengalaman, jadi guru, jadi dosen.

Karena aku paling tua.

Karena aku yang punya ide awal.

Karena aku yang akan tinggal tetap di Cikarawang.

Karena aku sanggup tidak dibayar.

Karena aku paling kenal orang Cikarawang.

Karena aku sudah banyak melewati kondisi buruk di sini sehingga -dengan banyak mohon pertolongan Allah- mungkin paling siap menghadapi situasi seburuk apapun.

Dan... banyak karena-karena lainnya yang kalau dikumpulkan mudah-mudahan cukup menjadi sumber kekuatan untuk bertahan pada masa merintis.

Pesimis? Bukan. Aku hanya terlalu sayang pada semangat baru anak-anak muda calon guru itu. Semangat baru ... masih perlu waktu untuk matang dan mantap.

Jangan tumpukkan kecewa dan malu pada mereka jika sekolah ini tak seberhasil yang dicita-citakan. Jangan biarkan mereka putus asa dan berhenti dalam kondisi sulit di awal. Kalau ada nenek tua yang terus maju dengan segala ketakberdayaannya, maka hati muda yang baik-baik itu tentu mau membantu sang nenek ( hA ha Ha ... Kalo nenek adalah ilustrasi yang ’ketuaan’, boleh ganti dengan ibu deh). Ya Allah, hiasi kami dengan banyak kesabaran dan keteguhan hati.

Lalu suatu saat kalau sekolah ini berhasil berjalan baik, siap memberi ma’isyah pada kepala sekolah dan guru, aku bisa mundur dan kembali pulang ke rumah. Yang muda yang meneruskan. Insya Allah lebih baik dan pasti hebat. Amin.

Dan inilah realitanya.

Di tahun pertama SMP yang kami tawarkan belium dapat merebut banyak hati. Yang mengambil formulir banyaaaaak. Yang datang serius bertanya-tanya memang lebih dari 10 orang. Tapi yang benar-benar mendaftar ada 9 orang, itu pun yang pada akhirnya datang sekolah ada 7 orang, dan yang hingga kini masih sekolah hanya 6.

Dan, guru-guru, para pemuda pejuang sejati (Hanafi, Darma, Sofyan, Ai, Eko, Burhan) dengan segala kesibukan, kerepotan, dan keterpaksaannya sendiri sendiri J, adalah orang-orang yang paling berjasa membuat sekolah ini tetap ’hidup’. Kami dapat tambahan dua orang ibu guru yaitu Bu Heni dan Bu Didit yang juga bukan guru biasa-biasa saja. Sungguh..... aku bangga sekali akan mereka semua! Tapi belum bisa membalas apa-apa! Untuk menyampaikan terimakasih saja aku belum pernah bisa ngomong dengan nada yang tepat. Terlalu malu, terlalu banyak berhutang budi. Jazakumullah khoirun jaza. Mudah-mudahan dengan kesediaannya membantu jalannya sekolah ini, Allah swt bantu mereka di semua urusannya.

Dan tibalah kini masa promosi.

Hari besarnya Ahad 9 Maret yang lalu.

Telah berlangsung Try Out untuk siswa SD yang sedang menghadapi UAN. Peserta 99 orang (yang dicari bukan tanpa susah payah). Penyelenggaraannya cukup meriah, meski bukan tanpa cacat. Aku berhutang budi lagi pada kerja keras para guru. Sejuta do’a untuk mereka.

Aku juga punya berjuta doa untuk anak-anak ini.

Allahu ya Latif… lembutkan hati anak-anak SD itu.

Allahu yaa Rahman … hidayahkan kecintaan padaMu di hati mereka.

Allahu yaa Karim izinkan kami menjadi bagian dari bukti rahmatan lil Alamin...

Beri kami kesempatan untuk berbagi ilmu dengan bocah-bocah yang masih takut untuk bercita-cita ini.

Dan di ujung dari itu semua, sampaikan kami pada keridhoanMu, ya Allah.

Bukankah RasulMu pernah bilang, jika seorang hamba keluar dari rumahnya untuk memenuhi hajat saudaranya seiman adalah lebih baik dari i’tikaf sebulan lamanya. Maka dengan menyebut namaMu ya Allah, sungguh kami bekerja di sekolah ini adalah untuk memenuhi kebutuhan saudara kami akan pendidikan yang baik, memenuhi kebutuhan saudara-saudara kami yang mungkin tak seberuntung teman-temannya di kota.

Berilah kami ampunanMu untuk semua kekeliruan yang kami buat, dan Ya Allah... Jagalah kami dengan petunjukMu. Hiasi kami dengan kesabaran berdakwah di jalanMu. Berilah kami keselamatan dalam kehidupan kami di dunia dan akhirat nanti. Amiin

2 komentar:

rendi ramli mengatakan...

bagus bu sejarahnya.....:)

Suzi Fernansih mengatakan...

Alhamdulillah... :)

Posting Komentar