Half Purple and Blue Butterfly

Minggu, 13 November 2011

Musikalisasi Puisi Lagi


Guruku

Wahai kau guru-guruku
Aku sangat hormati dirimu
Cintai dan menyayangimu
untuk slama-lamanya

trimakasih ku ucapkan
atas ilmu yang telah kau beri
tak terhitung semua jasamu
oh begitu indahnya

ku nikmati semua, cintamu
cintamu yang telah kau beri
kepada diri ini

oh kau guruku, maafkan
maafkan semua kesalahan
kesalahan yang tlah ku buat

guru-guruku ku mohon
janganlah pernah kau lupakan
lupakan diri ini

sungguh ku mohon
cintaiku sbagai muridmu
di NUFA Nurul Fajar ini

Musikalisasi puisi. Puisi ini diciptakan oleh saya dan seorang teman bernama Renida, dinyanyikan dengan nada dari lagu Langkahku, milik Zahra Damariva. Namun nadanya tidak berurutan, ada bagian nada yang terlewat ketika menyanyikan lagu tersebut dengan puisi ini.


Musikalisasi Puisi


Rasa tak berarti

Terlihat diri ini
Berubah tumbuh dewasa
Hati dan raga penuh coretan
Hitam jatuh pada putihnya

Oh tuhan apakah ini
Mengusik bayang-bayangku
Datang dan pergi begitu halus
Rasa tak berarti

Dia yang datang mengganggu setiap hariku
Indah terasa tapi tak tenangkan jiwa

Bayang-bayang dirinya hiasi setiap lamunku
Senyum kecil ku tersipu malu terusik karnanya

Tuhan tolonglah bantuku menjaga hati
Ku hanya ingin tinggikan cinta pada-Mu

Oh tuhan cintaku pada-Mu takkan tergantikan
Oleh cintaku padanya


Musikalisasi puisi. Puisi ini diciptakan oleh saya dan seorang teman bernama Renida, dinyanyikan dengan nada dari lagu Bunda, milik Melly Goeslaw. Namun nadanya tidak berurutan, ada bagian nada yang terlewat ketika menyanyikan lagu tersebut dengan puisi ini.

Jumat, 27 Mei 2011

Sejarah SMP-ku Tercinta (Ketahuilah Kisahnya)

Sumber : http://belajarikhlas.multiply.com/journal/item/4

"Diceritakan oleh Ibu Lisda, kepala sekolah kami yang sangat kami cintai. Tak ada pendeskripsian yang bisa kami ungkapkan seperti apa gambaran seorang Ibu Lisda yang amat Luar Biasa segala kebaikannya"



Ini sejarah SMPIT Nurul Fajar.

(wah, belum apa-apa sudah ada yang berkomentar : ”Mudah-mudahan tidak segera jadi sejarah semata ..” )

Yah ini bukan betul-betul cerita sejarah. Tak detil menjelaskan waktu, tempat, orang dan kejadian. Tulisan ini hanya sedikit mengungkap saja apa yang masih ada dalam kenangan dan apa yang ada dalam harapan. Hehe ceillee...

Mulai dari mana ya? Sepertinya tidak lengkap kalo tidak cerita tentang TKnya dulu.

Jadi, ini tentang TK Fatimah. TK yang keberadaannya kemudian melahirkan Yayasan Nurul Fajar Bogor.

Bermula dari kebutuhan sendiri, yang sebenarnya kebutuhan banyak orang

(tetangga de el el) tapi mereka gak sadar aja atawa gak ngeh, yang ingin menyekolahkan anak (Maryam) tapi terkendala dengan kondisi kampung ini.

Jauhnya jarak ke kota, buruknya fasilitas angkutan, jalan yang jueleeeq, membuat aku, seorang ibu hamil pada waktu itu, merasa sangat kelelahan jika tiap hari harus untuk keluar dari kampung ini untuk menyekolahkan anak dan bekerja.

Lalu, ya begitulah, kubuat sekolah-sekolahan di rumah dengan mengundang anak tetangga dan balita-balita dari posyandu terdekat. Ada Iqro’, ada ABCD dan 1234, gambar-gambar buatan sendiri di atas kertas-kertas bekas, nyanyi-nyanyi dan do’a-do’a. Mula-mula hanya dua kali seminggu, gantian dengan jadwal ngajar di AMIK, sampai akhirnya kupilih menekuni TK ini saja dan melepaskan pekerjaan dosen. Pertimbangannya sederhana, kalau pekerjaan dosen ditinggalkan akan mudah cari pengganti. Banyak yang sedang antri. Tapi ’kerjabakti’ demi anak kampung, sulit betul cari teman apalagi pengganti. Maka, di sini aku dengan pilihanku.

Berikutnya, ada banyak sambutan, beragam bentuk dan rasa, bulat lonjong positif negatif manis pahit tarik dorong bisik teriak beri minta dan bla bla bla....

Alhamdulillah, semuanya menjadi pelajaran berharga bagi insan yang ngaku mau dakwah ini. Semoga seluruhnya akan membawa rasa syukur padaNya.

Hingga sekarang seperti ini. Tak ada prestasi yang mendunia atau apalah, aku cuma berani bilang kami memimpin dalam pendidikan prasekolah di kampung ini. Alhamdulillah.

Demikianlah, kemudian banyak pihak yang berharap dengan sangat, agar semua kerja ini berlanjut terus bagai terbitnya fajar di kampung yang ’gelap’ini (minjam istilah Mang Agus). Fajar yang membawa benderangnya Islam dan Dakwah pada titik pencilan di bumi Allah yang bernama Cikarawang.

Jadi itulah usut asal nama yayasan, yang mula-mula diurus untuk kebutuhan legalitas sekolah TK, tapi lalu menjadi wadah juga untuk macam-macam kegiatan lain dan melibatkan banyak orang lainnya pula. Kegiatan paling baru adalah merintis usaha penggemukan sapi, sekarang baru sampe bikin kandangnya. Mudah-mudahan bisa berjalan ya. Hidup Nurul Fajar Bogor !!!

Siapa yang hebat? Allah saja. Allahlah dengan semua pertolonganNya. Allahu Akbar!!!

Boleh juga kusebut barisan pejuang cantik berhati mulia yang tak pernah bisa terbayar pengorbanannya untuk TK: Bu Lilis, Bu Uja, Bu Aam, Bu Wiwit, Bu Sutini, Bu Tini, Bu Neng, Bu Ida, Bu Ida lagi, Bu Saroh, dan semua ibu lain yang datang kemudian... Sebagian masih di sini, sebagian entah di mana. Jangan tanya pendidikannya, karena memang sangat beragam. Tapi lihatlah... kalau mau berbuat, siapa pun bisa mewujudkan muwashofat nafiun li ghoirihi. Subhanallah.

Dan kemudian, ada semangat serupa yang menular ke Cangkrang dan Kompleks IPB, dusun berbeda tapi masih desa kami jaga.

Senangnya,.. ada TK di mana-mana, dan belajar dari kita! Mudah-mudahan jadi tabungan untuk beli tiket ke Syurga. Ya Allah, berkahilah kami...

Lalu, waktu itu ada pemikiran baru. Selepas TK mereka ke mana?

Maka berjalanlah TPA untuk menjawab kebutuhan ini. Sayang, tumbuhnya tak sesehat TK, ada masa hibernasinya, gitu. Aha!? Tapi, belum mati koq. Tahun ini insyaAllah akan diupayakan suasana dakwah dibuat sehangat summer, agar TPA kembali menggeliat dan melompat, mengejar ketinggalannya. Bismillah.... Allahummanshurna...

Lalu lagi, ada permohonan ada banyak orangtua untuk berdirinya SMP.

Ada dua perkara yang jadi pertimbangan utama. Pertama, letak SMP yang jauh sehingga membuat biaya transport jadi sungguh besar . Kedua, mereka berharap anak-anaknya bisa kembali bangga dengan atribut keislamannya, sebagaimana yang pernah mereka rasakan sewaktu di TK.

Aku perlu waktu 3 tahun untuk mengendapkan permintaan ini, menguji kekonsistenan permintaan tersebut. Nggak mau kan bikin sekolah lalu bubar gak keruan.

Awal tahun 2007, ketika akhirnya kuberanikan diri mengungkapkannya di hadapan para pemuda mujahid dramaga, ternyata perlu waktu juga untuk membiarkan ide itu tumbuh menjadi pemikiran-pemikiran dan kemauan untuk memulai.

Nah, kemudian dengan mengumpulkan banyak semangat dan do’a, dibuatlah struktur, konsep, spanduk, formulir... dan lain-lainnya. Di situ ada angan-angan, ada impian, ada keluh kesah, ada lelah, ada tawa … ada air mata juga. Pak Sidik tercintalah yang setia memimpin agar cita-cita ini terwujud, hingga .....

Siapa jadi kepala sekolah?

Agak malu, tapi jabatan itu kuminta juga!

Kenapa?

Karena aku pernah punya pengalaman, jadi guru, jadi dosen.

Karena aku paling tua.

Karena aku yang punya ide awal.

Karena aku yang akan tinggal tetap di Cikarawang.

Karena aku sanggup tidak dibayar.

Karena aku paling kenal orang Cikarawang.

Karena aku sudah banyak melewati kondisi buruk di sini sehingga -dengan banyak mohon pertolongan Allah- mungkin paling siap menghadapi situasi seburuk apapun.

Dan... banyak karena-karena lainnya yang kalau dikumpulkan mudah-mudahan cukup menjadi sumber kekuatan untuk bertahan pada masa merintis.

Pesimis? Bukan. Aku hanya terlalu sayang pada semangat baru anak-anak muda calon guru itu. Semangat baru ... masih perlu waktu untuk matang dan mantap.

Jangan tumpukkan kecewa dan malu pada mereka jika sekolah ini tak seberhasil yang dicita-citakan. Jangan biarkan mereka putus asa dan berhenti dalam kondisi sulit di awal. Kalau ada nenek tua yang terus maju dengan segala ketakberdayaannya, maka hati muda yang baik-baik itu tentu mau membantu sang nenek ( hA ha Ha ... Kalo nenek adalah ilustrasi yang ’ketuaan’, boleh ganti dengan ibu deh). Ya Allah, hiasi kami dengan banyak kesabaran dan keteguhan hati.

Lalu suatu saat kalau sekolah ini berhasil berjalan baik, siap memberi ma’isyah pada kepala sekolah dan guru, aku bisa mundur dan kembali pulang ke rumah. Yang muda yang meneruskan. Insya Allah lebih baik dan pasti hebat. Amin.

Dan inilah realitanya.

Di tahun pertama SMP yang kami tawarkan belium dapat merebut banyak hati. Yang mengambil formulir banyaaaaak. Yang datang serius bertanya-tanya memang lebih dari 10 orang. Tapi yang benar-benar mendaftar ada 9 orang, itu pun yang pada akhirnya datang sekolah ada 7 orang, dan yang hingga kini masih sekolah hanya 6.

Dan, guru-guru, para pemuda pejuang sejati (Hanafi, Darma, Sofyan, Ai, Eko, Burhan) dengan segala kesibukan, kerepotan, dan keterpaksaannya sendiri sendiri J, adalah orang-orang yang paling berjasa membuat sekolah ini tetap ’hidup’. Kami dapat tambahan dua orang ibu guru yaitu Bu Heni dan Bu Didit yang juga bukan guru biasa-biasa saja. Sungguh..... aku bangga sekali akan mereka semua! Tapi belum bisa membalas apa-apa! Untuk menyampaikan terimakasih saja aku belum pernah bisa ngomong dengan nada yang tepat. Terlalu malu, terlalu banyak berhutang budi. Jazakumullah khoirun jaza. Mudah-mudahan dengan kesediaannya membantu jalannya sekolah ini, Allah swt bantu mereka di semua urusannya.

Dan tibalah kini masa promosi.

Hari besarnya Ahad 9 Maret yang lalu.

Telah berlangsung Try Out untuk siswa SD yang sedang menghadapi UAN. Peserta 99 orang (yang dicari bukan tanpa susah payah). Penyelenggaraannya cukup meriah, meski bukan tanpa cacat. Aku berhutang budi lagi pada kerja keras para guru. Sejuta do’a untuk mereka.

Aku juga punya berjuta doa untuk anak-anak ini.

Allahu ya Latif… lembutkan hati anak-anak SD itu.

Allahu yaa Rahman … hidayahkan kecintaan padaMu di hati mereka.

Allahu yaa Karim izinkan kami menjadi bagian dari bukti rahmatan lil Alamin...

Beri kami kesempatan untuk berbagi ilmu dengan bocah-bocah yang masih takut untuk bercita-cita ini.

Dan di ujung dari itu semua, sampaikan kami pada keridhoanMu, ya Allah.

Bukankah RasulMu pernah bilang, jika seorang hamba keluar dari rumahnya untuk memenuhi hajat saudaranya seiman adalah lebih baik dari i’tikaf sebulan lamanya. Maka dengan menyebut namaMu ya Allah, sungguh kami bekerja di sekolah ini adalah untuk memenuhi kebutuhan saudara kami akan pendidikan yang baik, memenuhi kebutuhan saudara-saudara kami yang mungkin tak seberuntung teman-temannya di kota.

Berilah kami ampunanMu untuk semua kekeliruan yang kami buat, dan Ya Allah... Jagalah kami dengan petunjukMu. Hiasi kami dengan kesabaran berdakwah di jalanMu. Berilah kami keselamatan dalam kehidupan kami di dunia dan akhirat nanti. Amiin

Senin, 23 Mei 2011

Hanya Cerita Fiksi...

"Gadis Kecil Itu"

Taman bunga adalah tempat bermain favorit Anna, Anna Salsabila. Seorang gadis kecil cantik yang sangat senang bermain boneka barbie di taman tersebut. Anna adalah anak semata wayang dari seorang pasangan suami istri yang cukup bahagia dengan kondisi finansial kehidupannya yang tergolong cukup, tempat tinggalnya tidak jauh dari taman anggrek tersebut.

Anna adalah anak yang baik, cantik, penurut, juga memiliki hati yang lembut. Ia enggan jika melihat orang-orang disekitarnya menampakan raut wajah yang sedih. Bahkan ia selalu bisa bersikap dewasa dalam mengambil keputusan untuk ukuran seorang anak seusianya yang baru berusia 5 tahun.

*~_”_~*

Sore itu Anna sedang bermain seorang diri dipinggir danau kecil didalam taman tersebut. Dia asyik bermain dengan dengan boneka barbienya yang cantik dengan gaun berwarna pink, Shely nama barbie sekaligus teman bermainnya itu. Anna tidak pernah lupa membawa Shely kemanapun dia pergi, bahkan ia membawanya ketika hendak mandi.

Suatu hari, sempat terlihat dia berlari-lari sambil tertawa riang di taman itu. Dan samar-samar terdengar dia berbicara solah-olah sedang berdialog dengan seseorang, padahal ketika itu hanya dia yang terlihat disana, tak ada yang lain. Selain dia dan juga bonekanya. Semua orang yang melihatnya pasti akan mengira kalau anak itu gila. Tetapi itulah dia. Gadis kecil yang lucu.

Begitulah Anna selalu menghabiskan waktunya, hampir setiap hari di sore harinya. Dia tampak riang meski hanya bermain sendirian, tanpa ada seorang teman. Dia dikenal sebagai anak yang tidak pernah baik, tidak pernah membuat ibunya kerepotan, tidak seperti anak-anak yang lain.

*~_”_~*

15 tahun kemudian…

Anna tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik sempurna, dia dikenal sebagai gadis yang baik, bijaksana, pintar, anggun, sopan, bahkan dia menjadi seorang muslimah yang selalu istiqomah dengan segala kebaikannya. Dan tidak dikira, ternyata dia adalah seseorang yang supel, dia pandai bergaul bahkan dengan orang baru sekalipun. Padahal dia adalah seorang gadis yang introvert semasa kecil dulu.

Dia banyak menjuarai berbagai macam lomba selama bersekolah, ketika SD, SMP, SMA, dan ditempat ia kuliah sekarang pun dia tetap bisa menjadi bintang di kampusnya.

Dialah Anna…


Rabu, 13 April 2011

Puisi Isi Harapan

"Cukup Satu dan Sekali"

Cukup satu untuk membuat aku bahagia
Dan sekali seumur hidup

Satu untuk kuberikan cinta
Dan sekali untuk menghidupkan cinta

Tak perlu ada yang lain 
Dan tak perlu berulang kali

Cukup kau satu 
Dan denganmu sekali 
... 

Puisi Lagi Nich...!!! ^_^

Ada menjadi Tiada

Kehadiranmu menyebabkan kepergianmu
 Ceritamu yang telah terekam kini hanya kenangan
Cintamu yang telah terukir kini hanyalah sebuah seni hidup

Apa arti akhir semua ini?
Bahagiakah karena pernah disinggahimu?
Atau sedihkah karena kini telah ditinggalkanmu?

Bahagia pastilah semu
Sedih pun tak tentu nyata
Haruskah aku berduka?
Atau bahagia tuk hanya sekedar menghindari kesedihan?

Rinduku tak terpenuhi
Tak perlu lagi rasanya rindu itu...
Cintaku belum saatnya terbalas
Menjaganya dalam hati, itulah yang akan aku lakukan...

Wahai Allah
Tetapkanlah hati ini dalam cinta kepadaMu
 

Kamis, 03 Maret 2011

Satu Lagi Tentang Bocah Dunia...

^_^ Hhm, Fiuuh...!
  
Kejadian ini terjadi sekitar satu setengah bulan yang lalu. Jadi, waktu itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari sekolah. Sore hari, kurang lebih jam setengah 5.

Singkatnya...
Ketika itu ditengah perjalanan, aku melihat seorang anak perempuan berseragam putih biru, "anak SMP" pikirku ketika itu. Dia baru saja turun dari angkot, dan aku berjalan dibelakangnya.
Aku perhatikan anak itu dari belakang dan aku melihat ada yang aneh dengan dirinya, tapi sebenarnya biasa saja sih... ??? Eegh, bingunglah...!
Aku melihat anak itu sedang meniupkan pelembungan sambil berjalan didepanku (semoga kalian tahu pelembungan yang aku maksud, karena aku bingung untuk mendeskripsikannya). Dan sesekali ku lihat dia melirik ke arahku beberapa kali, sepertinya dia mengagumiku... (hehe, entahlah... Tapi itu yang aku rasakan).
Ada yang  membuat aku sedih ketika itu, karena sepertinya kaki anak itu cacat. Ku lihat anak itu berjalan dengan menggeser-geser kaki sebelah kanannya, dan agak terpincang-pincang sedikit.
Ada yang membuat aku terharu juga. Saat itu, dia menoleh kebelakang dan melihat ke arahku. Dia memperhatikan aku yang sedang memeluk beberapa buku paket mata pelajaran didadaku, karena hari itu aku membawa banyak buku. Dan seketika itu aku lihat dia membuka tasnya, aku pun terus memperhatikannya karena aku penasaran dengan apa yang akan dia lakukan. Masya Allah, tak kuduga...!!! ternyata dia meniru caraku membawa buku... Aku terharu, aku melihat wajah polos itu, aku iba dibuatnya. Timbul rasa ingin mendekatkan diri dengannya. Tapi aku bingung, panggilan apa yang akan aku tujukan padanya? Neng atau ade??? Akhirnya aku putuskan untuk memanggilnya dengan sebutan ade... Ku awali pendekatan itu...

"De, sekolah dimana?" tanyaku padanya
"Di tb..." jawab anak itu singkat dengan wajah tanpa ekspresi
"Oh, terbuka... di SADAR ya..." kataku lagi
"Iya..."
"Tinggal dimana, De?"
"Di Carang Pulang"
"Oh, sama dong... disebelah mana?"
"Disana, seremped, KUD..."
"Ooh... kamu pindahan ya?"
"Iya"
"Dari mana?"
"Babakan"
"Oooooh, iya iya iya..."

Ku akhiri perbincangan itu, dan kita berpisah karena arah pulangnya berbeda. Setelah pertemuan itu aku berharap dalam hati, "Semoga nanti aku bertemu dengan anak itu lagi" ... Ku ingat terus pertemuan itu, sampai akhirnya selang waktu 3 minggu setelah hari itu, aku kembali bertemu dengannya. Tapi kali ini tak ada perbincangan, hanya diam, tapi kulihat wajah itu mengharapkan sapaan dariku. Aku bingung, tak tahu harus bertanya apa.

Tiba-tiba...

"Kak, tasnya kebuka..." anak itu berbicara kepadaku.
Aku pun melihat tasku yang ternyata memang terbuka, mungkin sejak dari sekolah. Kemudian aku menutup tasku tanpa berkata apapun padanya.
"Makasih" hanya itu
"Ya"
Kemudian kita berpisah lagi... Dan sampai saat ini aku belum bertemu dengannya lagi...
Entah kapan akan bertemu kembali...

Ada satu harapan dalam hati untuk dia...

"Semoga masa depan anak itu cerah, indah, penuh kebahagiaan. Dan semoga Allah menjadikan dia wanita shalihah yang kuat, cerdas dan tangkas dalam menjalani hidup didunia ini"

Amiin...!!! ^_^